TKN Sebut Kampanye Prabowo-Sandi Miskin Kreativitas, Biarkan Ujaran Kebencian Dari Pendukungnya

MI/Susanto

ADANYA tudingan pencitraan yang dilakukan Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya ke Garut, Jawa Barat olleh pendukung calon Presiden Prabowo Subianto dinilai TIm Kampenye Nasional (TKN)  Jokowi-Amin, menunjukkan tim sukses Prabowo miskin kreativitas.
Juru bicara TKN Jokowi-Amin Ace Hasan Syadzily menyebutkan, akibat minim kreativitas tersebuit, yang diandalkan timses Prabowo ialah hoaks, membiarkan ujaran kebencian, dan upaya merangkai sandiwara.
"Setiap langkah Presiden blusukan diframing oleh mereka sebagai pencitraan. Tapi mereka lupa blusukan itu adalah karakter kepeminpinan Pak Jokowi sejak jadi walikota Solo pada tahun 2005. Lalu dilanjut saat jadi Gubernur dan Presiden. Jadi ini bukan yang instan. Beda dengan Sandiaga Uno yang tiba-tiba masuk ke pasar. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya," ujar Ace dalam keterangan tertulis.
Dalam blusukan,lanjut Ace, Presiden bukan hanya berdialog tapi juga memberikan motivasi dan inspirasi.
Contohnya, ketika minta dicukur oleh tukang cukur di Garut. Ini menjadi kebanggaan bagi profesi tukang cukur.
"Dan profesi ini menjadi dihargai dan menjadi spotlight dalam skala nasional karena diberikan motivasi oleh Presiden. Beda dengan karakter Prabowo yang menjelek jelekan profesi guru, ojek daring, sampai tanpang Boyalali. Ini justru kepemimpinan yang destruktif," tukas Ace.
Ace menambahkan, dalam kunjungan kerjanya, Presiden Jokowi justru menunjukkan model smart framing dengan bertemu petani yang bersinergi dengan BUMN.
Lewat pertemuan itu, Presiden Jokowi ingin menunjukkan petani tidak hanya berproduksi tapi juga meningkatkan nilai tambah pada pasca panen dengan bantuan BUMN.
"Ini sebuah konsep kreatif yang tidak pernah dimiliki Prabowo walaupun pernah jadi ketua HKTI. Coba hitung berapa kali Prabowo yang mengklaim dirinya pro petani pernah turun ke sawah dan melihat langsung nasib petani ? Ini paradoks, di satu sisi dalam pidato mengecam elite tapi  perilaku dan gaya  kampanyenya justru elitis," tegas Ace.
Perbedaan blusukan Jokowi, menurut Ace hanya dari segi pengamanan saja yang lebih ketat saat jadi Presiden. Namun, di beberapa kesempatan, Jokowi justru tak mau dibatasii untuk berinteraksi dan berjabat tangan dengan rakyat.
Karakter itu yang dinilai Ace tak ada pada diri Prabowo maupun Sandi.
"Karena jagoan mereka elitis, miskin kreativitas maka para pendukung paslon 02 menjadi terbiasa untuk berkampanye dengan hoaks dan ujaran kebencian ke Jokowi," tandas Ace. (RO/OL-8)

Posting Komentar

0 Komentar