Debat Pilpres 2019 dan Terbongkarnya Bahaya Prabowo


Debat Pilpres dan Terbongkarnya Bahaya Prabowo
Alhamdulillah debat pertama Pilpres selesai. Masing-masing pendukung bisa mengaku pihaknya menang. Kullu hizbin bima ladaihim farihun: setiap golongan merasa senang dengan apa yang mereka punya.
Namun yang paling penting bagi saya, dalam debat Pilpres tadi malam, terkuak bahaya Prabowo dan bagaimana Prabowo membongkar jati dirinya dari tidak serius hingga meremehkan soal korupsi hingga potensi diktator bila Prabowo menjabat sebagai presiden.
Prabowo koar-koar soal pemberantasan korupsi, tapi saat ditanya partainya mencalonkan Caleg mantan napi korupsi dia malah menjawab ‘mungkin korupsinya tidak seberapa’ ini parah sekali. Korupsi ya korupsi jangan dilihat jumlah duit yang dikorupsi. Karena kerusakan korupsi bukan hanya soal berapa duit yang berhasil digarong tapi korupsi adalah rusaknya sebuah sistem, kerusakan ini pun berdampak kemana-mana. Contohnya, saat ada yg korupsi alat kesehatan, maka jangan cuma liat berapa duit yg dikorupsi, tapi berapa banyak korban orang yg sakit. orang sakit jadi korban maka tidak punya masa depan dst…
Prabowo mengaitkan korupsi dengan gaji yg rendah. Padahal yang tertangkap korupsi mereka adalah yg bergaji & bertunjangan tinggi, dari Ketua dan Hakim MK, Ketua DPR, Ketua SKK Migas dst korupsi lebih karena soal KESERAKAHAN bukan karena gaji tidak cukup apalagi soal kemiskinan.
Prabowo bicara soal hak asasi manusia (HAM) padahal dia terlibat penculikan aktivis sehingga dia yg letnan jenderal saat itu dicopot dari jabatannya, pelanggar HAM kok ngaku pembela HAM, ini seperti serigala yang ngaku sedang mengembala domba.
Prabowo bicara soal kesetaraan jender, tapi faktanya pemimpin-pemimpin di partainya, Gerindra semua laki-laki, Dari Ketua Pembina, Ketua Umum, Sekjen & pucuk-pucuk pimpinan adalah laki-laki.
Prabowo mengaku ahli anti teror saat bicara terorisme, faktanya dia penebar teror saat menjelang reformasi, dengan terlihat dalam teror dan penculikan para aktivis pro demokrasi.
Prabowo ingin presiden sebagai panglima penegakan hukum. Ini bahaya artinya hukum bisa diintervensi oleh politik, bahkan selera dan golongan politik presiden. Ini watak asli seorang diktator nan tiran. Hukum akan ditegakkan sesuai selera politik yang berkuasa. Ini bahaya, hukum harusnya independen. Presiden adalah pemimpin tertinggi lembaga eksekutif, yg kewenangan dan jabatannya dibatasi oleh hukum, bukan sebaliknya presiden bisa menentukan hukum. Karena hukum di bawah lembaga Yudikatif, yang presiden pun tidak boleh intervensi. Prabowo tidak paham konsep Trias Politica (Pemisahan Tiga Kekuasaan: Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif). Konsep Prabowo ini bahaya sekali, kalau dia menang akan menjadikannya seorang diktator, maka tidak salah kalau kolomnis koran Al-Hayat, Abdullah Al-Madani pernah menulis ‘Prabowo adalah Pinochet Indonesia’ Pinochet adalah diktator Chile yang punya rekam jejak berdarah.
Mohamad Guntur Romli 

Sumber : gunromli.com

0 Comments