Sandiaga Uno dan Transaksi Mencurigakan Berau Coal Senilai Rp 602 Miliar


Menurut Sandi, di era sekarang ini, anak-anak muda seharusnya tidak lagi sibuk mencari kerja. (Foto: Twitter/@sandiagauno)

Jakarta - Laporan investigasi yang dilakukan oleh sebuah LSM internasional Global Witness menyebutkan calon wakil presiden Sandiaga Uno telah memiliki andil dalam pembayaran-pembayaran mencurigakan sekurangnya senilai US$ 43 juta atau senilai Rp 602 miliar (dengan kurs Rp 14.000) dari sebuah perusahaan besar batu bara Indonesia kepada sebuah perusahaan tak dikenal. Disebutkan Sandiaga mungkin secara diam-diam memperoleh keuntungan dari pembayaran ini.

Laporan Global Witness yang berbasis di London dan Washington yang dirilis Selasa (2/4) melalui globalwitness.org, menyebutkan Berau Coal, salah satu perusahaan batu bara terbesar Indonesia, membayar setidaknya senilai US$ 43 juta antara tahun 2010 dan 2012 ke perusahaan lepas pantai tak dikenal di Seychelles bernama Velodrome Worldwide Limited. Lebih lanjut, pembayaran ini berdampak serius terhadap Berau Coal dan para investornya yang lain.

Pembayaran ke Velodrome bersama arus uang keluar ini telah melemahkan neraca keuangan Berau Coal, menyumbang kepada kegagalan perusahaan itu dalam pembayaran ratusan juta dollar utang mereka, serta berdampak buruk kepada para investornya yang lain.

Hal ini menunjukkan bagaimana salah satu perusahaan batu bara besar di Indonesia mengalihkan sejumlah besar uang ke perusahaan tak dikenal yang dimiliki secara anonim sehingga membuat uang itu sulit untuk dilacak.

Global Witness melaporkan, pada Desember 2009, Berau Coal berada di bawah kendali Recapital Advisers, perusahaan investasi berbasis di Jakarta, yang ikut didirikan dan dimiliki oleh Sandiaga Uno.

Segera sesudahnya, perusahaan raksasa batu bara tersebut membuat perjanjian dengan perusahaan tak dikenal bernama Velodrome Worldwide yang akan memberi nasehat strategis, bisnis dan operasional dengan komisi bulanan sebesar US$ 2 juta atau senilai Rp 28 miliar.

Pembayaran ke Velodrome ini nilainya hampir sama dengan jumlah keseluruhan gaji ratusan karyawan Berau Coal. Bahkan setelah Berau Coal mulai merugi, pembayaran ke Velodrome tetap berlanjut hingga akhir tahun 2012.

Namun tidak jelas saran apa, jika pun ada, yang diberikan oleh Velodrome sebagai imbalan atas upahnya. Ketika perjanjian ditinjau ulang pada tahun 2012 oleh pemegang saham baru di Berau Coal, pembayaran ini dihentikan "berdasarkan tinjauan dari layanan yang diberikan." Perusahaan kemudian mengakui bahwa "nilai bisnis" dari kontraknya dengan Velodrome "tidak jelas".

Audit dan penyelidikan yang telah dilakukan juga menemukan puluhan juta dolar pembayaran meragukan yang dilakukan oleh Berau Coal yang terhubung kepada Rosan Roeslani, mitra Sandiaga Uno pada saat itu, termasuk dugaan kenaikan gaji diam-diam sebesar US$ 3 juta atau Rp 42 miliar untuk Roeslani. Uang mengucur keluar dari Berau Coal.

Kaitan Sandiago Uno dengan Velodrome Worldwide
Pada awalnya, hampir tidak ada yang diketahui umum tentang Velodrome Worldwide Limited atau pemilik sebenarnya.

Pada tahun 2016 bocoran Offshore Leaks mengungkapkan bahwa Sandiaga Uno menjadi pemegang saham tunggal dan direktur Velodrome sejak pendirian perusahaan itu pada bulan Oktober 2007 hingga Mei 2009.

Segera sesudah periode ini, kendali perusahaan diteruskan kepada Ng Soon Kai, seorang pengacara Singapura. Ng Soon Kai adalah pemegang saham Velodrome terakhir yang diketahui umum, beberapa bulan sebelum pembayaran dilakukan. Penyelidikan Global Witness mengungkapkan adanya hubungan erat antara Ng Soon Kai dan Sandiaga Uno. Mereka merupakan mitra bisnis yang sudah lama berkerjasama, dan Ng Soon Kai pernah bekerja di beberapa perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Sandiaga Uno.

Calon Wakil Presiden 02 Sandiaga Salahuddin Uno menjadi Keynote Speaker, di acara YES yang dihadiri ribuan kaum Millenial,di CCC, jalan Tanjung Bunga Kota Makassar, Senin (1/4/2019). (Foto: Tagar/Rio Anthony)

Namun kedua orang ini, Sandiaga dan Ng Soon Kai, tidak memberi jawaban ketika Global Witness bertanya mengenai hubungan mereka dengan Velodrome Worldwide.

Menurut Global Witness, Sandiaga Uno selayaknya tahu mengenai keputusan Berau Coal untuk membuat perjanjian kerjasama dengan Velodrome pada bulan Januari 2010. Dan ia juga berada dalam posisi untuk mempengaruhi transaksi itu, karena ia merupakan salah satu pendiri dan pemegang saham Recapital, yang ketika itu mengendalikan Berau Coal.

Dari bulan Maret 2010 hingga Juni 2013, ia juga duduk di Dewan Komisaris Berau Coal sementara mitranya dan rekan penanam modalnya, Roslan Roeslani, merupakan presiden direktur antara bulan Agustus 2010 dan Maret 2013.

Global Witness menyebut pihaknya sudah berusaha mengkonfirmasi langsung mengenai masalah ini kepada Sandiaga Uno namun tak ditanggapi.

"Disebabkan ketiadaan penjelasan alternatif yang kredibel, tampaknya wajar untuk menyimpulkan bahwa Sandiaga Uno memiliki andil dalam pembayaran dari Berau Coal ke Velodrome, dan ia mungkin dengan satu atau lain cara mendapat keuntungan secara pribadi dari transaksi ini," demikian kesimpulan Global Witness.

Stuart McWilliam, Manajer Kampanye Anti Perubahan Iklim Global Witness mengatakan Sandiaga Uno mungkin bukan lagi pebisnis. Namun sebagai seorang yang mengincar salah satu jabatan tertinggi di Indonesia, ia seharusnya sangat peduli untuk menjelaskan masalah ini.

"Hingga kini ia belum memberi jawaban yang kredibel mengenai perannya dalam pembayaran kepada Velodrome, dan ketika diminta untuk berkomentar, ia tak memberikan jawaban,“ kata Stuart McWilliam, mengutip pernyataan dari globalwitness.org.

Sementara itu, saat dikonfirmasi langsung oleh Tagar News lewat email, Stuart McWilliam mengatakan laporan investigasi mereka ini benar.

"Berdasarkan penyelidikan kami dan fakta bahwa ia tidak menjawab pertanyaan kami, kami menyimpulkan bahwa Sandiaga Uno memiliki andil, atau paling tidak tahu tentang pembayaran dari Berau Coal ke Velodrome Worldwide. Ia mungkin secara pribadi mendapatkan manfaat dari beberapa cara," ujar Stuart.

Calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengunjungi Tempat Penjual Ikan (TPI) di Kampung Ujung, Labuan Bajo, NTT, (Selasa 26/2/2019). (Foto: Itho Umar/Rio Anthony)

Ia menambahkan Global Witness juga menemukan hubungan antara Sandiaga dan Veldorome di Panama Papers, yang melaporkan bahwa ia dulu memilikinya sampai tahun 2009 dan bahwa rekan bisnis jangka panjangnya adalah pemilik Velodrome yang diketahui terakhir sebelum pembayaran dimulai.

"Kami tidak mengatakan dia pasti diuntungkan tetapi mungkin (diuntungkan). Dan kami menetapkan alasan untuk kesimpulan ini dalam briefing. Kami telah melakukan pemeriksaan hukum yang sangat menyeluruh tentang hal ini dan kami sangat yakin bahwa pernyataan kami akurat," ungkapnya.

Stuart juga menjelaskan pihaknya sudah dua kali meminta konfirmasi kepada Sandiaga untuk menjawab tuduhan tersebut namun tidak ditanggapi. [tagar.id]

0 Comments